Senin, 29 Oktober 2012
di
06.36
|
ARTIKEL TEXT BOOK DEVELOPMENT
A.
Pengertian
Guna menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan sesuai standard kompetensi lulusan,
diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara sistematis,
terpadu, dan tuntas (mastery learning).
Pada pendidikan menengah umum, di samping
buku-buku teks, juga dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran
(instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, antara lain: lembar
tugas (job sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information
sheet) dan bahan ajar lainnya baik cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang
digunakan untuk mendukung proses belajar itu disebut sebagai bahan ajar
(teaching material).
Untuk pembelajaran yang bertujuan mencapai
kompetensi sesuai profil kemampuan tamatan pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) diperlukan kemampuan guru untuk dapat mengembangkan yang
tepat. Dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) diharapkan siswa
dapat menguasai kompetensi-kompetensi secara utuh, sesuai dengan kecepatan
belajarnya. Untuk itu bahan ajar hendaknya disusun agar siswa lebih aktif dalam
kegiatan pembelajaran mencapai
kompetensi.
Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk
maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda,
yakni sumber belajar dan bahan ajar. Untuk itu, maka berikut ini akan
dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan ajar.
1.
Pengertian Sumber Belajar
Sering kita dengar istilah sumber belajar
(learning resource), orang juga banyak yang telah memanfaatkan sumber belajar,
namun umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber
belajar. Padahal secara tidak terasa apa
yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber
belajar.
Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as
information, represented and stored in a variety of media and formats, that
assists student learning as defined by provincial or local curricula. This
includes but is not limited to, materials in print, video, and software
formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers
and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/
asleares.htm January 28, 1999.
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan
dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai
perwujudan dari kurikulum. Bentuknya
tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau
kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.
Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik,
dan latar (Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
untuk Pembelajaran, makalah, 2004)
Menurut Association for
Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar
adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara
terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar
dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.
Dengan demikian maka sumber
belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda,
dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta
didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.
Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat
dikategorikan sebagai berikut:
a.
Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat
melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat
dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya
perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam
ikan dan lain sebagainya.
b.
Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah
laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber
belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c.
Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta
didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai
sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
d.
Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman
elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
e.
Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta
didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku
teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
f.
Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan,
peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan peristiwa
atau fakta sebagai sumber belajar.
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta
didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang
memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak
maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya
sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya apa-apa.
2.
Pengertian Bahan Ajar
Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di
atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material
atau bahan.
Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA pada website-nya, WebPage
last updated: August 1998, Teaching
is defined as the process of creating and sustaining an effective environment
for learning.
Melaksanakan
pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan
suatu lingkungan belajar yang efektif.
Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu:
Books can be used as reference material, or they can be used as paper weights, but they cannot teach.
Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot.
Dalam website Dikmenjur
dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi
pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan
sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu
kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif
mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
a. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses
pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya
diajarkan kepada siswa.
b. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam
proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya
dipelajari/dikuasainya.
c.
Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Pendapat lain mengatakan sebagai berikut;
Definition of teaching material
They
are the information, equipment and text for instructors that are required for planning and review upon training implementation. Text and training equipment are included in
the teaching material.( Anonim dalam Web-site)
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan
guru/instruktor untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan
tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National
Center for Vocational Education
Research Ltd/National
Center for Competency
Based Training).
Pengelompokan bahan ajar menurut
Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université
de Genève dalam website adalah sebagai berikut :
Integrated
media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their
programs under the name of Medienverbund or Mediamix (Feren Universitaet and Open University respectively).
http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfapeople/peraya.html>http://
tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfa-people/ peraya.html, Faculté de Psychologie
et des Sciences de l’Education Université de Genève.
Media tulis, audio visual, elektronik, dan
interaktif terintegrasi yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman yang
berarti media terintegrasi) atau mediamix.
Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku Lernen mit Bildmedien mengelompokkan
menjadi tiga besar, pertama auditiv
yang menyangkut radio (Rundfunk),
kaset (Tonkassette), piringan hitam (Schallplatte). Kedua yaitu visual (visuell) yang menyangkut Flipchart,
gambar (Wandbild), film bisu (Stummfilm), video bisu (Stummvideo), program komputer (Computer-Lernprogramm), bahan tertulis
dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildung). Ketiga yaitu audio visual (audiovisuell) yang
menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bild), pertunjukan suara dan
gambar (Tonbildschau),dan film/video.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disarikan
bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara
sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk
belajar.
Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain :
a.
Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b.
Kompetensi yang akan dicapai
c.
Content atau isi materi pembelajaran
d.
Informasi pendukung
e.
Latihan-latihan
f.
Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g.
Evaluasi
h.
Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi
B.
Mengapa guru perlu
mengembangkan Bahan Ajar?
Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk
mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan
kurikulum, karakteristik sasaran, dan
tuntutan pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan
tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus
sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan, standard
kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk
mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para
pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut untuk
mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri. Untuk mendukung
kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi sebagai bahan ajar
pokok ataupun suplementer. Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi
tuntutan kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementer adalah bahan ajar yang
dimaksudkan untuk memperkaya, menambah ataupun memperdalam isi kurikulum.
Apabila bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan
kurikulum tidak ada ataupun sulit diperoleh, maka membuat bahan belajar sendiri
adalah suatu keputusan yang bijak. Untuk mengembangkan bahan ajar, referensi
dapat diperoleh dari berbagai sumber baik itu berupa pengalaman ataupun
pengetahauan sendiri, ataupun penggalian informasi dari narasumber baik orang
ahli ataupun teman sejawat. Demikian pula referensi dapat kita peroleh dari
buku-buku, media masa, internet, dll. Namun demikian, kalaupun bahan yang
sesuai dengan kurikulum cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu
mengembangkan bahan sendiri. Bagi siswa, seringkali bahan yang terlalu banyak
membuat mereka bingung, untuk itu maka guru perlu membuat bahan ajar untuk
menjadi pedoman bagi siswa.
Pertimbangan lain adalah karakteristik sasaran.
Bahan ajar yang dikembangkan orang lain seringkali tidak cocok untuk siswa
kita. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya, lingkungan sosial,
geografis, budaya, dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri
dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Selain lingkungan sosial,
budaya, dan geografis, karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan
siswa, kemampuan awal yang telah dikuasai, minat, latar belakang keluarga dll.
Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan
karakteristik siswa sebagai sasaran.
Selanjutnya, pengembangan bahan ajar harus dapat
menjawab atau memecahkan masalah ataupun kesulitan dalam belajar. Terdapat
sejumlah materi pembelajaran yang seringkali siswa sulit untuk memahaminya
ataupun guru sulit untuk menjelaskannya. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi
karena materi tersebut abstrak, rumit, asing, dsb. Untuk mengatasi kesulitan
ini maka perlu dikembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran
yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu
siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak gersebut, misalnya dengan penggunaan
gambar, foto, bagan, skema, dll. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat
dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir siswa,
sehingga menjadi lebih mudah dipahami.
C.
Tujuan dan Manfaat Penyusunan
Bahan Ajar
1.
Tujuan
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
a.
Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan
mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan
karakteristik dan setting atau
lingkungan sosial siswa.
b.
Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku
teks yang terkadang sulit diperoleh.
c.
Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
2.
Manfaat
Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila
seorang guru mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang
sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kedua, tidak lagi tergantung kepada buku
teks yang terkadang sulit untuk diperoleh, ketiga,
bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai
referensi, keempat, menambah khasanah
pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran
yang efektif antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya
kepada gurunya.
Di samping itu, guru juga dapat memperoleh manfaat
lain, misalnya tulisan tersebut dapat diajukan untuk menambah angka kredit
ataupun dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi,
maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih
menarik. Siswa akan lebih banyak
mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi
ketergantungan terhadap kehadiran guru.
Siswa juga akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap
kompetensi yang harus dikuasainya.
D.
Prinsip Pengembangan Bahan
Ajar
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan
prinsisp-prinsip pembelajaran. Di antara prinsip pembelajaran tersebut adalah:
Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk
memahami yang abstrak,
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep
tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret,
sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep
pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat
di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara
tentang berbagai jenis pasar lainnya.
Pengulangan akan memperkuat
pemahaman
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan
agar siswa lebih memahami suatu konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar
pepatah yang mengatakan bahwa 5 x 2 lebih baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun maksudnya
sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan
siswa. Namun pengulangan dalam penulisan bahan belajar harus disajikan secara
tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan.
Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa
Seringkali kita menganggap enteng dengan
memberikan respond yang sekedarnya atas hasil kerja siswa. Padahal respond yang
diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa.
Perkataan seorang guru seperti ’ya benar’ atau ‚’ya kamu pintar’ atau,’itu
benar, namun akan lebih baik kalau begini...’ akan menimbulkan kepercayaan diri
pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar.
Sebaliknya, respond negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan
lupa berikan umpan balik yang positif terhadap hasil kerja siswa.
Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan belajar
Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar
tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru
dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar
siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan
memberikan pujian, memberikan harapan, menjelas tujuan dan manfaat, memberi
contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dll.
Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan
mencapai ketinggian tertentu.
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan
berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standard kompetensi yang tinggi, perlu
dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga
semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil
terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga
tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan
ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator
kompetensi.
Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus
mencapai tujuan
Ibarat menempuh perjalanan jauh, untuk mencapai
kota yang dituju, sepanjang perjalanan kita akan melewati kota-kota lain. Kita
akan senang apabila pemandu perjalanan kita memberitahukan setiap kota yang
dilewati, sehingga kita menjadi tahu sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi
kita akan berjalan. Demikian pula dalam proses pembelajaran, guru ibarat
pemandu perjalanan. Pemandu perjalanan yang baik, akan memberitahukan kota
tujuan akhir yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, kota-kota apa saja
yang akan dilewati, dan memberitahukan pula sudah sampai di mana dan berapa
jauh lagi perjalanan. Dengan demikian, semua peserta dapat mencapai kota tujuan
dengan selamat. Dalam pembelajaran, setiap anak akan mencapai tujuan tersebut
dengan kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan
meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah sebagian dari prinsip belajar
tuntas.
E.
Jenis Bahan Ajar
Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar
dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti
antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. Bahan ajar
dengar (audio) seperti kaset,
radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio
visual) seperti video compact disk, film. Bahan
ajar multimedia interaktif (interactive
teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact
disk (CD) multimedia pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).
Selanjutnya pada buku pedoman ini hanya akan
dibahas tentang bahan ajar cetak. Untuk bahan ajar non-cetak akan dibahas pada
buku pedoman tersendiri.
1.
Bahan Ajar Cetak (Printed)
Bahan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai
bentuk. Jika bahan ajar cetak tersusun
secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang
dikemukakan oleh Steffen Peter
Ballstaedt, 1994 yaitu:
a.
Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi
seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang
dipelajari
b.
Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit
c.
Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah
d.
Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
e.
Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja
f.
Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan
aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
g.
Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar
h.
Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri
Kita mengenal berbagai jenis bahan ajar cetak,
antara lain hand out, buku, modul, poster, brosur, dan leaflet.
a.
Handout
Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh
seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Menurut kamus Oxford hal 389, handout is prepared statement given.
Handout adalah pernyataan yang telah disiapkan oleh pembicara.
Handout biasanya diambilkan dari
beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/ KD dan
materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saat ini handout
dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara down-load dari internet,
atau menyadur dari sebuah buku.
b.
Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu
pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat
dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman,
otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Menurut
kamus oxford hal 94, buku diartikan sebagai:
Book is number of sheet of paper, either
printed or blank, fastened together in a
cover. Buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang
dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil
analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang
baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar
dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai
dengan ide penulisannya. Buku pelajaran
berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk
belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan
seterusnya.
c.
Modul
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik
dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul
berisi paling tidak tentang:
·
Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
· Kompetensi yang akan dicapai
· Content atau isi materi
· Informasi pendukung
· Latihan-latihan
· Petunjuk kerja, dapat berupa
Lembar Kerja (LK)
· Evaluasi
· Balikan terhadap hasil
evaluasi
Sebuah modul akan bermakna kalau peserta didik
dapat dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan
seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih
cepat menyelesaikan satu atau lebih KD dibandingkan dengan peserta didik
lainnya. Dengan demikian maka modul
harus menggambarkan KD yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan
menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi.
d.
Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah
lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk,
langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar
kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya.
Lembar kegiatan dapat digunakan untuk mata pembelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan
dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan
buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta
didik dapat berupa teoritis dan atau
tugas-tugas praktis. Tugas teoritis
misalnya tugas membaca sebuah artikel tertentu, kemudian membuat resume untuk
dipresentasikan. Sedangkan tugas praktis
dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya survey tentang
harga cabe dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat. Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah bagi
guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar
secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis.
Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus
memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD
dikuasai oleh peserta didik.
e.
Brosur
Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai
suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri
atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang
berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi
(Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996). Dengan demikian, maka brosur dapat dimanfaatkan
sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang harus dikuasai
oleh siswa. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik, karena
bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak,
maka brosur didesain hanya memuat satu KD saja.
Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik
untuk menggunakannya.
f.
Leaflet
A separate sheet of printed matter, often folded but not stitched
(Webster’s New World, 1996) Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi
tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat
menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan
menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet
sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik
untuk menguasai satu atau lebih KD.
g.
Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak, biasanya
berupa bagan siklus/proses atau grafik
yang bermakna menunjukkan posisi tertentu.
Agar wallchart terlihat lebih
menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart
didesain dengan menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam kategori
alat bantu melaksanakan pembelajaran, namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar. Karena didesain sebagai bahan ajar, maka
wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki
kejelasan tentang KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik,
diajarkan untuk berapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh wallchart
tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya.
h.
Foto/Gambar
Foto/gambar memiliki makna yang lebih baik
dibandingkan dengan tulisan. Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja
diperlukan satu rancangan yang baik agar setelah selesai melihat sebuah atau
serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan sesuatu yang pada akhirnya
menguasai satu atau lebih KD.
Menurut Weidenmann
dalam buku Lehren mit Bildmedien
menggambarkan bahwa melihat sebuah foto/gambar lebih tinggi maknanya dari pada
membaca atau mendengar. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari
mendengar yang diingat 20%, dan dari melihat yang diingat 30%. Foto/gambar yang didesain secara baik dapat
memberikan pemahaman yang lebih baik. Bahan ajar ini dalam menggunakannya harus
dibantu dengan bahan tertulis. Bahan tertulis dapat berupa petunjuk cara
menggunakannya dan atau bahan tes.
Sebuah gambar yang bermakna paling tidak memiliki
kriteria sebagai berikut:
·
Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan
informasi/data. Sehingga gambar tidak hanya sekedar gambar yang tidak
mengandung arti atau tidak ada yang dapat dipelajari.
·
Gambar bermakna dan dapat dimengerti. Sehingga, si pembaca gambar
benar-benar mengerti, tidak salah pengertian.
·
Lengkap, rasional untuk digunakan dalam proses pembelajaran, bahannya
diambil dari sumber yang benar. Sehingga jangan sampai gambar miskin informasi
yang berakibat penggunanya tidak belajar apa-apa.
Diposting oleh
blog debar

PENDAHULUAN Latar Belakang Secara sederhana inovasi di maknai dengan pembaruan atau perubahan dengan di tandai oleh adanya hal yang baru....



0 komentar:
Posting Komentar